Friday, 25 April 2014

Memahami Agama

Karakteristik agama
Ketika manusia belajar agama, biasanya mereka membawa gagasan-gagasan dari agama yang mereka peluk atau agama mayoritas masyarakat di sekitar mereka. Mereka mungkin berasumsi, misalnya, bahwa setiap agama memiliki kitab suci, menyembah Tuhan, atau seperangkat aturan berupa perintah dan larangan. Memang, banyak agama yang memiliki karakteristik-karakteristik tersebut, tapi beberapa agama tidak demikian. Shinto, misalnya, tidak memiliki seperangkat aturan dan tidak mengajarkan kode etik moral tertentu. Zen Budhism tidak menyembah Tuhan tertentu; dan beberapa agama suku tidak memiliki kitab suci. Meskipun demikian, kita menyebutnya agama. Lalu, apakah agama itu-jika sesuatu yang tidak memiliki karakteristik umum juga disebut agama?

Titik tolak penjelasannya para pakar biasanya memeriksa asal-usul katanya: Apa akar kata istilah religion? Menariknya, asal-usul katanya dari bahasa latin, re berarti again, lagi dan lig berarti to join, bergabung atau to reconnect, bersatu kembali (seperti dalam kata ligament, ikatan). Jadi, terjemah umum kata religion berarti bergabung atau bersatu kembali. Jika penurunan kata ini memang benar kata religion mengajak menyatukan kembali fitrah kita, alam manusia dengan alam suci. Dalam bahasa Latin kuno, kata religio berarti kagum pada para dewa dan mementingkan ritual yang benar. Kita harus menyadari, walaupun demikian, bahwa istilah religion dimunculkan dalam kebudayaan barat dan mungkin saja tidak sepenuhnya sesuai ketika diterapkan di kebudayaan yang lain. Spritual path, jalan spritual, misalnya, mungkin penunjukan yang pas untuk meninjau sistem agama yang lain.

No comments:

Post a Comment

Labels